Oleh: asdan | Februari 7, 2011

Menanti Geliat Ekor Naga di Timur Jakarta


Sentra Primer Baru Timur bakal segera memiliki superblok

Wilayah timur Jakarta termasuk paling lambat berkembang. Dalam kepercayaan masyarakat China, wilayah timur identik dengan ekor naga, sementara wilayah barat merupakan kepala naga, sehingga pengembangannya lebih cepat.

Namun, kini ekor naga itu siap bergerak cepat menyusul sinergi tiga pengembang yang tengah menggarap kawasan timur Jakarta. Terlepas dari benar atau tidaknya mengenai kepala dan ekor naga itu, nyatanya kawasan timur Jakarta memang bergerak lamban dalam 10 tahun terakhir ini.

Padahal, Pemprov DKI Jakarta sudah menetapkan Sentra Primer Baru Timur (SPBT) di Pulo Gebang dan Sentra Primer Baru Barat (SPBB) di Puri Indah sebagai pusat kegiatan bisnis baru bertaraf nasional sejak 1984. Komitmen ini dikuatkan dengan Perda No. 6/1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2010.

Baca Selengkapnya..

Oleh: asdan | Februari 1, 2011

Pasar Terapung Banjarmasin: sudah sekarat


The dying Banjarmasin Floating Market

Gara-gara bertahun-tahun nonton iklan di RCTI oke yang menunjukan keindahan alam Indonesia, termasuk pasar terapung, saya jadi ngebet sekali ingin menyaksikan kegiatan itu. Iklan jeda RCTI itu sangat lekat diingatan saya, yang rutin diputar pada tahun 1994-1999.

Ibu-ibu dengan sayuran dan buah-buahan segar menawarkan dagangannya di sebuah sampan atau perahu atau jukung. Sebagian lagi sibuk bertransaksi. Lalu iklan diakhiri dengan seorang pedagang ibu-ibu tua yang mengacungkan ibu jarinya dengan senyum khasnya berbarengan dengan lagu akhir RCTI Oke. Di Layar kaca, kegiatan itu di tampilkan sangat menakjubkan.

Makanya, ketika punya kesempatan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, lokasi pasar terapung yang ditampilkan di televisi itu pada 21 Januari 2011, Saya berulang kali meyakinkan ngajak teman-teman liputan untuk menengok lokasi pasar terapung atau floating market. Saya berkesempatan ke Banjarmasin untuk meliput kegiatan Munas Khusus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau Hipmi yang saat itu diketuai Erwin Aksa.

Begitu tiba di Hotel Ratan Inn, gambar besar pasar terapung itu ditampilkan di dinding lobi hotel. Seolah-olah mengajak semua tamu hotel untuk mengunjunginya. Hotel Nasa yang baru dibangun juga demikian. Foto ebsar pasar terapung dipampang di lobi.  Semakin membuat saya penasaran. Lalu, saya browsing di internet dan tanya-tanya ke penduduk setempat  cara menuju ke sana.

Lokasi  dekat dengan pusat kota, hanya harus berangkat pagi-pagi, karena menjelang siang pedagang sudah bubar. Begitu sarannya. Ada beberapa titik lokasi Pasar Terapung di Banjarmasin yang berada di sepanjang Sungai Barito. Kota di selatan Kalimantan ini memang mendapat julukan kota seribu sungai. Kota dibentuk oleh aliran-aliran sungai sejak jaman Kerajaan Banjar.

Pasar terpaung yang mudah dijangkau dan dekat dengan pusat kota adalah Pasar Terapung Muara Kuin. Maka diputuskan untuk ke sana. Perjalanan dari pusat kota hanya membutuhkan waktu 15 menit. Padahal perkiraan saya semula sekitar setengah jam lebih.

Saya berangkat sekitar pukul 05.00 WIT dari hotel. Hari masih gelap. Saya menggunakan kendaraan Humas Pemprov Kalsel. Pengunjung bisa menggunakan taksi yang harus dipesan dulu sejak malam. Taksi di Banjarmasin tarifnya juga terjangkau, Rp25.000 untuk lokasi dalam kota. Itu tarif minimum taksi. Atau Bisa juga menggunakan paket wisata yang disediakan di hotel.

Memasuki jalan menuju Muara Kuin, para pemilik perahu sudah menawarkan jasanya. Saya berhenti persis di depan Makam Sultan Syuriansyah, Sultan Banjar pertama yang hidup pada abad 14. Ada lokasi parkir untuk 4-6 kendaraan. Bisa juga berhenti di depan mesjid Syuriansyah, yang berada sebelum makam. lLokasi parkirnya lebih luas.

Kemudian sewa jukung atau perahu dengan kayuh. Disarankan menyewa kelotok saja, perahu dengan motor solar karena lebih cepat. Saya menggunakan kelotok dengan tarif sewa Rp150.000.  Rata-rata tarif sewa berksiar antara Rp80.000-Rp150.000.

Kelotok atau perahu motor saya tumpangi kecil ini ada penutup atap untuk menghindari hujan. Saya hanya bisa duduk sambil membungkukan kepala sedikit. Dengan tubuh yang tinggi, 180 cm, kepala saya pasti mengenai atap perahu. Saya memilih ke ujung perahu yang tidak beratap.

Hari masih gelap. Hanya lampu temaram di pinggir Sungai Barito yang bisa saya lihat. Rumah khas banjar juga berderet sepanjang sungai, tampak tak begitu jelas. Sekitar 20 menit kemudian saya sampai di lokasi pasar.

Selain rumah pinggir sungai, saya juga melihat stasiun pengisihan bahan bakar solar milik pertamina, kemudian tongkang yang mengangkut batu bara, dengan badan perahu besar.

Semula, saya berpikian akan melewati sungai dengan pemandangan hutan atau setidaknya melewati rimbunan pohon. Perkiraan ini sepenuhnya meleset. Sepanjang jalan hanya rumah, mesjid, dan toko.

Matahari belum juga mau menampakan dirinya ketika saya sampai di lokasi pasar. Kami memang datang terlalu cepat.  Kamera saku yang saya bawa tidak akan berhasil menangkap gambar dan lansekap dengan cahaya pas-pasan seperti ini.

Saya hanya bisa menunggu. Lagian jumlah pedagang juga masih sedikit. Mungkin hanya ada 15 pedagang. Saya menunggu, sambil berharap bisa menyaksikan kegiatan transaksi dagang yang saya saksikan seperti di layar televisi.

Wisatawan lain, yang juga peserta Hipmi dari luar kota mulai berdatangan. Sejurus kemudian pasar mulai ramai. Perahu penujual makanan ringan dan kopi mulai datang. Perahu ini yang mendapat perhatian wisatawan yang ingin sarapan.

Ada dua atau tiga perahu yang khusus melayani para pelancong. Selain kopi, beberapa makanan tradisional juga dijual, seperti nasi kuning dan soto Banjar. Untuk membeli makanan atau kopi, perahu salng mendekat atau menempel. Perahu pedagang ditempel oleh dua atau tiga perahu pembeli. Untuk mengambil makanan ringan, disediakan tongkat. Ujungnya disediakan paku yang berfungsi mengambil makanan dengan cara menancapkan atau dikail.

Selesai minum kopi dan merokok (sarapan sederhana saya), lalu bersiap untuk hunting foto. Hingga menjelang pukul 06.30 jumlah pedagangnya masih terbilang sedikit, sekitar 20-25 perahu. Saya katakan sedikit, dibandingkan yang saya saksikan di foto-foto internet. Sayuran yang dijual juga tidak banyak. Hanya ada pisang, kelapa, atau sejumlah rempah-rempah. Saya bisa memastikan, jika yang ada dilokasi pasar adalah mayoritas pedagang. Saya tidak melihat perahu pembeli yang sengaja berbelanja ke pasar. Tidak ada!

Ternyata para pedagang itu melakukan barter. Jadi pedagang sekaligus berarti pembeli. Kegiatan transaksi ini juga  tidak berlangsung lama. Menjelang pukul 07.00 WITA. Pasar mulai sepi.

Sungai yang dulu menjadi urat nadi perekonomian Banjar sudah hampir punah. Pasar terapung mulai kalah oleh pasar darat dan juga pusat belanja. Menjamurnya motor juga mempercepat kematian pasar terapung.

Perkiraan saya, pedagang yang bertahan ke pasar terapung adalah masyarakat yang tinggal di sekitar pasar . Mereka memang pedagang sejak dulu dna hanya mencoba bertahan.  Namun ini bukan lagi kegiatan utama mereka. Saya yakin hanya sedikit, atau bahkan tidak ada anak-anak muda Banjar, yang meneruskan kegiatan orang tuanya ini.

Saya berkesempatan bertanya langsung kepada gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengenai kondisi ini. Sang Gubernur juga angkat tangan. Mereka tidak bisa memaksa warga untuk tetap berjualan.

“Jalur transportasi darat sekarang kan sudah bagus. Secara perlahan pasar terapung memang kalah oleh pasar darat,” ujarnya yang tidak tampak semangat menjawab pertanyaan saya.

Padahal, pasar terapung merupakan nilai jual Kalimantan Selatan untuk emdnatangkan wisawatan domestik bahkan asing. Buktinya, puluhan peserta Hipmi dari berbagai daerah di Tanah Air yang datang ke Banjarmasin menyempatkan datang ke pasar terapung yang hampir sekarat ini. Mereka juga ingin berwisata atau tepatnya menyaksikan sisa-sisa budaya dan kearifan lokal.

Saya sempat bediskusi dengan rekan liputan. Dari pada punah, sekalian saja pasar terapung ini dijadikan kegiatan wisata. Pemeritnah setempat mengelola kegiatan pasar terapung itu khusus untuk wisatawan.

Pedagang diberikan insentif untuk berjualan. Ini hanya formalitas untuk menarik wisatawan saha. Sisanya produk yang dijual berupa cenderamata atau oleh-oleh khas Kalimantan. Misalnya kaos, gantungan kunci, makanan ringan.Toh yang banyak berdatangan ke sana adalah wisatawan. Maka penuhi saja keinginan para wisatawan itu! Sedot habis uang para pelancong itu. Kalau pelayanan dan situasnya memuaskan, uang biasanya tidak akan jadi masalah.

Atau kalau perlu dipungut tiket sekedar untuk memberikan insentif bagi pedagang dan warga sekitar.Ini cara untuk mempetahankan kearifan lokal dan bertahan ditengah gempuran pasar global yang serba modern ini.

Jika tidak memungkinkan dibuka tiap hari, buka saja pada hari-hari tertentu, atau 2 hari sekali. Lalu umumkan kepada masyarakat jadwalnya, bahwa pasar hanya buka pada haru Sabtu, Minggu, Rabu, dan Jumat misalnya.

Atau contek kaya Damnoen Saduak Floating Market di Thailand. Kita bisa berbelanja lewat jalan yang ada di pinggir. Jadi pinggiran sungai juga ditata dengan baik.

Saya yakin, konsep seperti bukannya tidak terpikirkan oleh pemerintah setempat. Gubernur Ruddy Arifin juga mengaku sudah ada wacana bahwa Pasar terapung Muara Kuin akan dijadikan seperti Thailand. Pasar terapung tersebut didedikasikan hanya untuk wisatawan. Namun, kata Ruddy, konsep itu belum serius digarap, baru sebatas wacana.

Kalau dibiarkan terus menerus, niscaya Pasar Terapung Banjarmasin ini hanya tinggal cerita atau kenangan. Ingatan keindahan pasar apung yang ditayangkan di RCTI

Indonesia memang kaya. Karena terlalu kaya, terkadang sulit menentukan mana dulu yang mau diurus. Jadinya semuanya terbengkalai!

Ini koleksi fotonya, jelek seh, tp kalo mau ngutip, cantumin sumbernya ya!


Oleh: asdan | Januari 27, 2011

Butuh 25 tahun membangun Serpong


25 Sep 2010
Bisnis Indonesia Ekonomi
OLEH A. DADAN MUHANDA

Bisnis Indonesia

Ikatan Ahli Perencana (IAP) menilai pemindahan ibu kota tidak akan menjamin kehidupan masyarakat di Jakarta akan lebih baik jika infrastruktur jalan dan sarana transportasi tetap tidak dibenahi.

Sekjen IAP Bernadus Djonoputro mengatakan pemindahan pusat pemerintahan ke luar Jakarta tidak akan menyelesaikan masalah jika sarana transportasi massal yang nyaman dan aman di Jakarta dan sekitarnya tetap tidak direalisasikan.

“Pemindahan ibu kota tidak menjamin kenyamanan warga di sekitar Jakarta membaik. Dengan atau tanpa dipindahkan Jakarta membutuhkan penataan kota yang lebih baik,” ujarnya.

Bernadus mengatakan pembangunan properti berupa kantor dan apartemen di Jakarta masih mem-punyai ruang yang cukup luas jika didukung dengan sarana infrastruktur memadai. Ruang vertikal di Jakarta masih cukup terbuka untuk menampung tambahan jutaan penduduk lagi sepanjang aturan mengenai bangunan gedung diikuti.

Menurut dia, selama ini pembangunan hunian di Jakarta masih melebar ke pinggiran pusat kota seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Namun, pembangunan horizontal ini tanpa didukung sarana transportasi dan infrastruktur memadai sehingga menimbulkan kemacetan dan masalah yang luar biasa.

Padahal, kata dia, jika kebijakan hunian vertikal di tengah kota berupa apartemen murah berhasil, warga kota yang produktif tidak lagi perlu pergi ke pinggiran.

Menurut Bernadus, ibu kota dan pusat pemerintahan tetap bisa berdampingan jika dibenahi secara serius. Mayoritas kota-kota besar di negara maju, masih tetap meng-gabungkan fungsi pusat bisnis dan pusat pemerintahan secara sinergi dengan melakukan revitalisasi penataan kota.

Selain mempunyai ruang ke atas, Jakarta juga masih bisa berkembang ke daerah pinggiran yang lebih jauh seperti Purwakarta, Cikampek atau ke Serang dan Cilegon jika pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi massal dibenahi.

IAP sendiri hingga kini belum pernah melakukan kajian secara ilmiah daerah mana yang sesuai menjadi ibu kota baru jika kebijakan ini Jadi direalisasikan.

Direktur Pemasaran Agung Podomoro Group Indra W. Antono mengatakan pembangunan sarana transportasi massal menghubungkan Jakarta dengan kota satelit justru akan mempercepat peningkatan industri properti dibandingkan rencana pemindahan ibu kota.

Industri properti di Jakarta dan sekitarnya masih mempunyai pros-pek tinggi jika pemerintah mau membenahi tata kota dan menambah pembangunan infrastruktur. “Kami masih tertarik membangun properti di Jakarta jika infrastruktur direvitalisasi. Namun, kalau ada kebijakan pemindahan ibu kota, tidak menutup kemungkinan untuk ekspansi selama atur-annya jelas,” ujarnya.

Indra mengatakan kalaupun ha-rus menggarap ibu kota baru, itu harus direncanakan secara matang dan jangka panjang. Membangun kota baru bukan perkara mudah karena membutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak.

“Kawasan Bumi Serpong Damaisaja butuh waktu 25 tahun untuk bisa sampai sekarang. Pembangunan ibu kota baru merupakan proyek jangka panjang. Saat ini kami fokus mengembangkan Jakarta dulu dengan berbagai inovasi untuk mengantisipasi permasalahan di Jakarta,” ujar Indra. (dadan.muhanda@bis nis.co.id)

Oleh: asdan | Januari 6, 2011

Jejak Bung Karno di Pulau Bunga, Ende


Semangat kepahlawanan Soekarno masih begitu terasa kental di Pulau Bunga. Jejak sang proklamator selama dibuang 4 tahun menjadi teladan bagi warga Ende, dan warga Flores lainnya di Nusa Tenggara Timur.

“Mari kota kobarkan lagi semangat patriotisme Bung Karno. Pancasila dihamili di Ende, dan dilahirkan di Jakarta. Masyarakat NTT harus yang paling bertanggungjawab untuk menjaga Pancasila,” ujar Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya.

Frans mengobarkan semangat itu saat memberikan sambutan pencanangan pemugaran empat situs Bung Karno di Ende, menjelang tutup tahun 2010. Pemugaran situs itu diinisiasi oleh Wakil Presiden Boediono yang kemudian didukung oleh beberapa tokoh nasional dan warga NTT.

Taman perenung, tempat main dan merenung Bung Karno
Taman perenung, tempat main dan merenung Bung Karno

Bupati Ende Don Bosco Wangge malah menyebut wilayahnya sebagai rahim Pancasila. Sebelum menyebut Pancasila, Soekarno menyebutnya sebagai lima butir mutiara.

Jejak perjalanan Soekarno di Ende memang patut dicatat sebagai bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia. Bung Karno merumuskan lima butir Pancasila melalui perenungan panjang di Ende, saat dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1934-1938. Hasil rumusan Pancasila itu kemudian menjadi bahan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kemudian diperingati menjadi hari lahir Pancasila.

Pemerintah Kolonial memutuskan untuk mengasingkan Bung Karno dari pulau Jawa karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia. Soekarno dibuang ke Flores bersama istri Inggit Garnasih, kemudian mertuanya Amsi, dan sepupunya Ratna Juami pada 14 Januari 1934.

“Saat Soekarno tiba di sini, penduduknya hanya 5.000 orang. Ini memang kota kecil,” tambah Frans Lebu Raya.

Tapi justru di kota kecil inilah, Seokarno menyusun strategi untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Ende merupakan salah satu kabupaten yang berada tepat di tengah Pulau Flores. Soekarno kemudian menyebutnya Pulau Bunga meskipun tidak banyak dijumpai bunga di pulau ini.

Saat diasingkan itulah, Soekarno mempunyai banyak waktu untuk merenungkan konsep Indonesia ke depan. Warga Ende mempercayai bahwa Soekarno sering merenung di sebuah taman yang menghadap pantai yang ada di pusat kota. Kegiatan ini rutin dilakukan pada sore hari.

Soekarno kemudian merumuskan lima butir Pancasila dari insprasi pohon sukun yang ada di taman. Pohon itu mempunyai batang utama lima cabang yang kemudian menjadi lima butir Pancasila.

Pohon sukun bersama taman ini kemudian dilestarikan dan merupakan satu dari empat situs yang akan direnovasi. Hingga kini pohon sukun itu masih berdiri dan memang mempunyai lima cabang batang utama.

Selain pohon sukun, dibangun juga patung Soekarno di sampingnya. Namun, patung itu dinilai tidak mirip dengan postur dan sosok Bung Karno sehingga menjadi bagian dari rencana pemugaran.

Selain taman perenungan, situs lain yang akan diperbaiki kondisinya adalah rumah tempat Soekarno sekeluarga tinggal selama pengasinggan. Rumah ini memang sudah dilestarikan namun pentaannya kurang baik. Wapres Boediono, saat berkunjung pada kampanye Pemilu 2009 lalu, merasa prihatin dengan kondisi rumah ini yang kurang terawat padahal merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia.

Bentuk rumah itu masih utuh, hanya tidak ditata dengan baik. Di rumah itu ada beberapa koleksi peralatan yang dipakai Soekarno sekeluarga seperti ranjang, lemari, gantungan pakian, 12 foto keluarga, dan lukisan karya Soekarno berjudul Pura Bali.

Koleksi lainnya berupa piring hias, tongkat, pulpen, biola besar, setrika besi juga masih ada. Sayang, koleksi itu ditempatkan begitu saja di rumah pengasingan. Pemerintah akan memperbaiki penempatan barang koleksi itu agar lebih menarik dan rapi. Rumah pengasingan Bung Karno itu berada di perkampungan penduduk, tepatnya di Jalan Perwira.

Rencana renovasi yang akan menghabiskan dana Rp30 miliar itu memang tidak mengubah bentuk aslinya. Pemerintah akan menata ulang lebih modern sehingga dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara.

Situs ketiga yang akan direnovasi adalah gedung Imakulata . Ini merupakan tempat Soekarno dan warga Ende melakukan pementasan drama teater atau tonil. Selama di asingkan empat tahun, Seokarno menyalurkan bakat seninya dengan menyusun naskah drama sambil mengobarkan semangat perjuangan. Grup tonil yang terdiri dari sejumlah pengikutnya diberinama Klub Kelimutu, nama sebuah danau triwarna di wilayah Ende.

Gedung ini juga bagian dari rencana renovasi pemerintah. Bangunan pementasan sandiwara ini terletak di Jalan Kathedral, sekitar 1 km dari pusat kota Ende. Gedung ini milik seorang misionaris yang kemudian jadi sahabat dan pengikut Soekarno.

Ada 13 naskah tonil yang di buat Soekarno. Diantaranya naskah yang terkenal adalah Dokter Syaitan.

Situs terakhir yang akan dipugar adalah makam ibu mertua Soekarno yaitu Amsi. Orang tua Inggit Garnasih itu meninggal di Ende. Makam berada  di kompleks pemakaman para pejuang, sekitar 1,5 km dari pusat kota.

Boediono mengatakan pemugaran situs ini tidak akan berhenti sampai kegiatan fisik saja. Wapres dan sejumlah tokoh NTT akan membentuk sebuah yayasan yang akan mengurus empat situs itu dan mengisinya dengan berbagai kegiatan rutin.

“Keberadaan situs Bung Karno ini semakin mempererat hubungan batin masyarakat Ende, dan Republik Indonesia, antara satu generasi dengan generasi yang akan datang,” ujar Boediono.

Situs-situs bersejarah seperti di Ende, memang sudah sepatutnya dilestarikan dan dipelihara. Para sejarawan, peneliti, dan wisatawan tentunya akan lebih tertarik lagi jika situs-situs itu dikelaola secara professional. Apalagi, pulau Flores sudah mempunyai objek wisata yang populer di mata wisatawan macanegara seperti Pulau Komodo dan danau triwarna Kelimutu.

Keberadaan situs Bung Karno ini bisa menjadi tambahan objek wisata baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Flores, tidak hanya mampir ke Pulau Komodo dan Kelimutu.


Oleh: asdan | Desember 11, 2010

Devi, ayo keluar nak, tengoklah dunia!


Devi Maheswari Gastiasih. Begitu nama putri kedua kami yang lahir pada siang hari, Jumat 20 Agustus 2010. Namanya kuambil dari bahasa Sangsekerta. Artinya, dewi bidadari yang pengasih. Sekilas seperti nama pewayangan atau India.

Tapi, tak apalah. Kami hanya ingin memberi nama yang bagus, indah, enak didengar, namun terlihat beda dengan anak-anak lain.

Amih dan abehnya selalu menyarankan kami untuk memberi nama anak kami dari nama-nama Islam. Bukanya kami tidak mau menggunakan nama-nama indah dari bahasa Arab. Namun, sulit sekali mencari nama dari daftar nama-nama Islam yang sedikit berbeda dari anak-anak yang lain.

Devi Maheswari Gastiasih

Devi Maheswari Gastiasih

 

 

Umumnya, nama-nama Islam sudah pernah dipakai atau pernah digunakan.
Toh, meskipun tidak menggunakan nama Islam, kami tetap sekuat tenaga menanamkan ajaran agama ini sebagai bekal kehidupannya.

Begitujuga dengan anak pertama, Arundiva Albizia Rahmadani. Namanya kuambil dari bahasa latin tanaman. Arundiva berasal dari kata arundina, nama latin untuk bunga kupu-kupu. Albizia adalah nama latin sebuah pohon yang berfungsi sebagai pelindung. Rahmadani tentu artinya bulan suci Ramadhan.

devi dan diva

devi dan diva

Kalau diartikan seluruhnya, ya kira-kira bunga yang cantik. Diva, begitu panggillan anak pertamaku, lahir pada 2 Ramadhan 1429 Hijriah, atau 14 September 2007.

Proses kelahiran Devi, tidak semudah Diva. Kelahiran anak pertama yang kini sangat suka sekali warna pink itu cukup lancar. Istriku mengalami kontraksi pada hari kedua bulan puasa pada 2007 itu setelah makan Sahur. Begitu Adzan Shubuh, saya mengantarkan istriku ke bidan. Tak sampai 3 jam, sekitar pukul 6.30 Diva berhasil dikeluarkan dari rahim dengan lancar. Itu pula salah satu alasan istriku- Seni Lidaeni-ingin mengandung lagi.

Devi, ketika baru lahir

Devi, ketika baru lahir

 

Namun, kenyataan berkata lain. Istriku harus berjuang cukup keras untuk mengeluarkan jabang bayi putri kami yang kedua. Tanda-tanda kelahiran sudah mulai dirasakan sejak Selasa 17 Agustus 2010. Namun, saat di bawa ke sebuah klinik kesehatan, sang bidan menyatakan bahwa posisi kepalanya masih di atas.

“Ini masih lama, mungkin dua minggu lagi. Nanti ketika mau lahiran, posisinya kepalanya otomatis turun,” katanya saat itu.

Kami agak kaget juga mengetahui posisi kepalanya masih di atas. Posisi yang normal, kepala bayi sudah berada di bawah memasuki bulan kedelapan atau menjelang kelahiran.

Keesokan harinya, istriku melakukan uji ultrasonografi (USG) untuk memindai kondisi bayi. Dan hari Kamis 18 Agustus kembali ke bidan dengan membahas hasil USG. Kabar cukup mengejutkan kami terima. Sang bidan tidak sanggup mengawal proses kelahiran istri saya setelah melihat hasil USG. Istri saya dirujuk ke RS Al Ihsan.

Malam hari, harinya diputuskan untuk masuk Al Ihsan. Saya yang berada di Jakarta langsung memutuskan pulang pada pukul 10.00 malam. Tiba di Al Ihsan menjelang Sahur sekitar pukul 02.00 dini hari. Istriku sudah kepayahan. Proses kelahiran sudah memasuki pembukaan delapan. Kata suster penjaga, kalau lancar kelahiran anak kami akan lahir sesudah Sahur sekitar pukul 05.00 WIB.

Istriku diminta tidur miring kekiri oleh, agar posisi kepala bisa turun ke bawah, dan agar plasenta tidka tertindih kepala. Hingga pukul 06.00 WIB kondisinya tidak berubah. Saya dipanggil oleh suster.

“Pak, kita akan suntik perangsang kontraksi, kalau 3 jam belum melairkan juga, maka proses kelahiran harus di sesar,” ujarnya saat meminta izin kepada saya.
Tiga jam kemudian, hasilnya sama saja. Padahal istriku sudah berkeringat dingin akibat suntikan perangsang itu. “Sakitnya luar biasa,” ujarnya.

Saya mulai was-was. Dalam hati, saya berteriak keras-keras. “Ayo nak keluarlah, mari kita tengok dunia ini. Akan kudidik kau jadi anak yang hebat.” Kata-kata itu terus terngiang namun hanya bisa dikatakan dalam hati. Faktanya saya gelisah.

Sekitar pukul 10.00, suntikan perangsang kedua diberikan kepada istriku. Kami dan keluarga sudah sangat cemas. Suster bilang ini suntikan terakhir jika pukul 12.00 belum melahirkan juga, maka proses kelahiran akan dilakukan secara sesar.

Menjelang pukul 11.00 saya memutuskan untuk sholat Jumat. Sepanjang melakukan ibadah Jumat, saya tak henti-hentinya berdoa dan berharap ketika kembali ke ruang persalinan, istrikus sudah melahirkan. Puji syukur, akhirnya doaku dikabulkan. Anak kedua kami lahir dengan persalinan normal, dengan berat 3,3 kg. Ayo nak, kita arungi dunia ini!

Di tulis di Baleendah, Kab.Bandung September 2010

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori